Aku sendiri, menetap di tempat. Hanya bergeser sedikit ke sebelah kanan,
menunggu masuknya syuruq (waktu duha) seperti rutinitas pagi Wawan dan
Idris.
"Berdzikir di mesjid hingga syuruq lalu shalat dua rakaat,
adalah kebahagiaan tiada tara ."ungkap Wawan suatu hari.
" Ada semacam energi baru dalam memulai hidup untuk hari
itu."kata Affasy menambahkan.
Aku rasa saatnya untuk membuktikan kata-kata Wawan dan Affasy. Di samping
mengamalkan hadits Rasulullah Saw. yang menjanjikan pahala umrah bagi yang yang
shalat subuh di mesjid, duduk berdzikir hingga syuruq lalu shalat dua
rakaat.
Di saat diriku mulai tenggelam dengan dzikir-dzikir pagi, seseorang yang
belum kukenal datang mendekat. Yang kutahu ia yang mengimami kami barusan.
Suaranya lembut. Ia ulurkan tangannya dibareni ucapan salam penuh berkah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alikumussalam."Jawabku, menyambut uluran tangannya. Tangannya
terasa hangat. Kupersilahkan ia duduk di sampingku. Barangkali ada satu hal
penting yang ingin ia utarakan.
"Akhuka Fillah(saudaramu seagama), Mustafa
Muhammad El-Aswani. Biasa dipanggil Mustafa, wa anta?(dan kamu)"
"Anaa,(saya) Muhammad Firman El-Indunisi.(asli
indonesia)"ungkapku menyebutkan nama, tangannya perlahan kulepas.
"Ooo, Andunisia! Subhanallah! Nawwarta Masr!(kamu menerangi
negri mesir)
"Allah yukhallieq..!"(thank's)perasaan
bahagiaku tak bisa kusembunyikan. Meski kutahu kata-kata itu sekedar bumbu
percakapan. Sebelumnya Naswah, putri pemilik kedai yang tinggal di apartemen
sebelah apartemenku, juga pernah melontarkan kalimat yang sama, sewaktu pertama
kali ia tahu namaku, Aku tersipu malu kala itu. Sebab, kutahu Presiden Husni
Mubarak sendiri tak pernah blak-blakan kalau dirinya telah menerangi negeri
Mesir. Biasa, bukan warga Mesir namanya kalau tak lihai berbasa-basi.
"Firman, ingin aku tunjukkan satu kebaikan?"
lantasnya, mencoba mengeja namaku yang baru kusebutkan.
"Taffaddal!"(silahkan)jawabku,
untuk sesaat aku berhenti dari membaca wirid pagi. Aku merasa penasaran
dengan kata "kebaikan" yang ia maksud.
"Begini, kalau mau, ada durus (pengajian) Hadits-hadits nabawi,
sirah, dan fiqhi di masjid At-tauhid."
"Oh, yah. Tapi, mesjid At-tauhid itu di mana?"
"Ahmed Hilmi"
"Di Muqattam, yah?"tebakku, sebab bila menunggu bis ke darrasah
di halte shalah Salim, bis-bis jurusan Muqattam - Sayyidah Aisyah , flat
depan samping nomor bis, tertulis Ahmed Hilmi.
"La, a,' 'inda Ramsies!"
"Ooo, Maaf kukira di Muqattam. Rupanya di Ramsies!"Sebenarnya
salah satu daerah pemukiman penduduk Mesir ini, belakangan baru familiar di
telingaku. Bermula dari adanya asrama putri yang dibangun untuk mahasiswi asing
oleh pihak Al-Azhar. Penghuninya kebanyakan dari Indonesia . Aku sedikit tahu,
karena kebetulan ada kakakku yang tinggal di sana . Terkadang aku mengantarnya
pulang, bila ia berkunjung ke rumahku.
" Pengajiannya setiap hari, ya?"
"Hampir setiap hari. Kecuali hari Jum'at dan
Sabtu."jawabnya.
Subhanallah! Hanya saja lumayan jauh, pikirku. Aku terdiam
sesaat. Sebab masalah pengajian belum terpikirkan olehku. Yang ada dalam
pikiranku saat ini, bagaimana besok lusa bisa menghadapi ujian. Selain karena
Ahmed Hilmi, adalah perjalanan satu jam lebih dari rumahku yang kini kutempati.
Jadi aku butuh waktu minimal dua jam lebih hanya untuk perjalanan. Itupun kalau
lancar. Kalau tidak, bisa teler dulu baru sampai. Sebenarnya bukan masalah jauh
dekatnya yang aku pertimbangkan. Sebab, kalau masalah jauh atau dekatnya demi
sebuah ilmu, Ibnu Hatim pernah pingsan di tengah perjalanan karena
kehabisan bekal. Saking jauhnya tempat yang ia tujui. Masalah sesungguhnya
adalah…
"Aku tahu apa yang ada dalam benak Firman pikirkan sekarang.
Tentang biaya, kan ?"ia mencoba menebak apa yang menari dalam
pikiranku.
"Firman bisa irit biaya, kok, dengan sekali menumpang
bis."lanjutnya.
"Insya Allah, bis 755, selama 24 jam lalu lalang ke sana . Pulang
pergi cuman satu pound yang harus dikorbankan. Itu tak seberapa dibanding ilmu
yang bakal diperoleh. Atau, Jika memang, misalnya sedang tak ada ongkos.
Bolehlah, kita berangkat sama-sama" tawarnya. Aku berharap semoga ia tak
seperti warga Mesir kebanyakan.
Sebenarnya dua atau tiga pound juga dalam sehari tidak begitu
banyak, jika memang ada. Masalahnya sekarang, untuk beli lauk saja susah.
Sudah dua hari ini menu makannya cuman tomat campur garam. Sudah dua hari pula
mandi tak pakai sabun. Tak terbayang jika kejadian seperti ini terjadi di musim
panas. Bersyukur persediaan transportasi untuk ujian esok lusa masih ada. Jadi
buku-buku tak sempat dibongkar, kebiasaanku semenjak di pesantren bila
"semi paceklik" tiba.
"Jadwalnya, boleh aku tahu, enggak? "
"Subhanallah! Mengapa tidak, akhi!"
Ia bangkit dariku mencari secarik kertas di sela-sela kotak infaq
mesjid. Aku menghampirinya yang tengah duduk kembali di samping mimbar.
Sambil ia mencatat jadwal yang kuminta, wirid dzikir pagi yang sempat terputus
tadi aku teruskan. Sesaat kumerasa, seperti yang selalu dirasakan Idris dan
Wawan. Ada kebahagiaan tersendiri yang bakal dirasakan. Ada semacam energi
tambahan dalam memulai hidup baru untuk hari ini.
" Kenal Syeikh Mustafa Al-Adawi , kan Firman?"
"Mmm… kalau kenal wajah, sih tidak. Kenal nama saja.
Lewat karya-karyanya. Beliau dari Manshura, bukan?"tebakku.
"Ayyuwa, huwa da"senyumnya mengambang.
"Di sini, beliau membawakan materi tafsir syarh shahih
al-Bukhari."bebernya, saat jadwal pengajian itu ia serahkan padaku.
Setelah kulihat nama-nama pematerinya, memang hanya Syeikh Mustafa Al-Adawi
yang kukenal. Itupun baru sekedar nama. Aku mengenalnya lewat karya-karya
beliau yang menyebar di maktabah-maktabah terdekat. Salah satu karya
fenomenal dari beliau, adalah Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Aku
mendapatkannya di maktabah Ibnu Rajab belakang mesjid Al-Azhar, saat itu tinggal
satu. Salah satu gaya penulisan beliau yang membuatku terpesona, adalah
pembahasan sisi bahasanya yang mendalam. Sehingga bukan saja ilmu-ilmu yang
tafsir yang kudapatkan, tapi juga perbendaharaan bahasa yang memadai. Hal ini
pula yang merangsang minatku. Membakar semangatku untuk terus mempermantap
bahasa yang ada sudah kupegang. Khususnya bahasa Arab. Sebagai rujukan,
karya-karya Prof. Dr. Muhyiddin Abdul Hamid, kontributor majalah Manarul
Islami, mulai kulirik.