Home - Profile - Arsip - Forum Anggota - Contact - Gallery - Kaskus - Friendster

Wawan St Bank',Adalah sosok yang senang dengan pertemanan,yang selalu diusahakan berlanjut menuju persahabatan.Bukan sosok terindah, tapi ingin menjadi sosok yang berguna. Dilahirkan di Bone. 15 - 5 - 1981, Provinsi Sulawesi Selatan Indonesia, dalam pelukan kasih sayang. Senang dengarin musik, membaca, nonton dan olahraga. Sejak kecil bercita-cita menjadi Pemain Bola yang terkenal entah kenapa bisa terdampar di Universitas Al-Azhar Kairo. Sekarang Tingkat Akhir Pada Fakultas Juris Prudence And Law Lebih lanjut teruskan di Profile. Beri kesan dan pesan anda dengan mengisi komentar dibawah.
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x


Download

Mp3 Favorite
Doa Khatam Quran
Shela On 7 'Pemenang'
Delon-Dunia Tanpa Lagu
Al_Jawaher-Seroja

Video Clip
Adil Imam Dangers

Application
AVG Anti Virus
CCleaner
Gif Animasi

SPONSOR UTAMA



Situs Favorite



Berita Hangat



POJOK IKLAN



Alamat Redaksi

St Bank Production

Giza Corporation

Internet Cyber Community

Cairo-Egypt 11411

sms ke nomor : +20102211475 Phone:(02)7581310

Email : yarietni_asyufak@yahoo.com







MySpace Layouts

http://wwone.blogdrive.com

  • Berita

  • Sastra


  • << November 2009 >>
    Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    01 02 03 04 05 06 07
    08 09 10 11 12 13 14
    15 16 17 18 19 20 21
    22 23 24 25 26 27 28
    29 30


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    rss feed
    Wednesday, February 14, 2007
    KETIKA DUHA MENJELANG TIBA


    Setelah shalat. Satu persatu dari jama'ah mulai meninggalkan tempat. Ada yang menuju ke arah belakang membaca al-Quran. Ada yang ke hammam.(kamar kecil) Ada pula yang langsung keluar, serta tak lupa mengucapkan salam. Salah satu pemandangan yang tak pernah kulihat selama di tanah air dulu.

    Aku sendiri, menetap di tempat. Hanya bergeser sedikit ke sebelah kanan, menunggu masuknya syuruq (waktu duha) seperti rutinitas pagi Wawan dan Idris.

    "Berdzikir di mesjid hingga syuruq lalu shalat dua rakaat, adalah kebahagiaan tiada tara ."ungkap Wawan suatu hari.

    " Ada semacam energi baru dalam memulai hidup untuk  hari itu."kata Affasy menambahkan.

    Aku rasa saatnya untuk membuktikan kata-kata Wawan dan Affasy. Di samping mengamalkan hadits Rasulullah Saw. yang menjanjikan pahala umrah bagi yang yang shalat subuh di mesjid, duduk berdzikir hingga syuruq lalu shalat dua rakaat.

    Di saat diriku mulai tenggelam dengan dzikir-dzikir pagi, seseorang yang belum kukenal datang mendekat. Yang kutahu ia yang mengimami kami barusan. Suaranya lembut. Ia ulurkan tangannya dibareni ucapan salam penuh berkah.

    "Assalamu'alaikum."

    "Wa'alikumussalam."Jawabku, menyambut uluran tangannya. Tangannya terasa hangat. Kupersilahkan ia duduk di sampingku. Barangkali ada satu hal penting yang ingin ia utarakan.

    "Akhuka Fillah(saudaramu seagama), Mustafa Muhammad El-Aswani. Biasa dipanggil Mustafa, wa anta?(dan kamu)"

    "Anaa,(saya) Muhammad Firman El-Indunisi.(asli indonesia)"ungkapku menyebutkan nama, tangannya perlahan kulepas.

    "Ooo, Andunisia! Subhanallah! Nawwarta Masr!(kamu menerangi negri mesir)

    "Allah yukhallieq..!"(thank's)perasaan bahagiaku tak bisa kusembunyikan. Meski kutahu kata-kata itu sekedar bumbu percakapan. Sebelumnya Naswah, putri pemilik kedai yang tinggal di apartemen sebelah apartemenku, juga pernah melontarkan kalimat yang sama, sewaktu pertama kali ia tahu namaku, Aku tersipu malu kala itu. Sebab, kutahu Presiden Husni Mubarak sendiri tak pernah blak-blakan kalau dirinya telah menerangi negeri Mesir. Biasa, bukan warga Mesir namanya kalau tak lihai berbasa-basi.

      "Firman, ingin aku tunjukkan satu kebaikan?" lantasnya, mencoba mengeja namaku yang baru kusebutkan.

     "Taffaddal!"(silahkan)jawabku,  untuk sesaat aku berhenti dari membaca wirid pagi. Aku merasa penasaran dengan kata "kebaikan" yang ia maksud.

    "Begini, kalau mau, ada durus (pengajian) Hadits-hadits nabawi, sirah, dan  fiqhi di masjid At-tauhid."

    "Oh, yah. Tapi, mesjid At-tauhid itu di mana?"

     "Ahmed Hilmi"

    "Di Muqattam, yah?"tebakku, sebab bila menunggu bis ke darrasah di halte shalah Salim, bis-bis jurusan Muqattam - Sayyidah Aisyah , flat depan samping nomor bis, tertulis Ahmed Hilmi.

    "La, a,' 'inda Ramsies!"

    "Ooo, Maaf kukira di Muqattam. Rupanya di Ramsies!"Sebenarnya salah satu daerah pemukiman penduduk Mesir ini, belakangan baru familiar di telingaku. Bermula dari adanya asrama putri yang dibangun untuk mahasiswi asing oleh pihak Al-Azhar. Penghuninya kebanyakan dari Indonesia . Aku sedikit tahu, karena kebetulan ada kakakku yang tinggal di sana . Terkadang aku mengantarnya pulang, bila ia berkunjung  ke rumahku.

      " Pengajiannya setiap hari, ya?"

      "Hampir setiap hari. Kecuali hari Jum'at dan Sabtu."jawabnya.

    Subhanallah! Hanya saja lumayan jauh, pikirku. Aku terdiam sesaat. Sebab masalah pengajian belum terpikirkan olehku. Yang ada dalam pikiranku saat ini, bagaimana besok lusa bisa menghadapi ujian. Selain karena Ahmed Hilmi, adalah perjalanan satu jam lebih dari rumahku yang kini kutempati. Jadi aku butuh waktu minimal dua jam lebih hanya untuk perjalanan. Itupun kalau lancar. Kalau tidak, bisa teler dulu baru sampai. Sebenarnya bukan masalah jauh dekatnya yang aku pertimbangkan. Sebab, kalau masalah jauh atau dekatnya demi sebuah ilmu,  Ibnu Hatim pernah pingsan di tengah perjalanan karena kehabisan bekal. Saking jauhnya tempat yang ia tujui. Masalah sesungguhnya adalah…

     "Aku tahu apa yang ada dalam benak Firman pikirkan sekarang. Tentang biaya, kan ?"ia mencoba  menebak apa yang menari dalam pikiranku.

     "Firman bisa irit biaya, kok, dengan sekali menumpang bis."lanjutnya.

    "Insya Allah, bis 755, selama 24 jam lalu lalang ke sana . Pulang pergi cuman satu pound yang harus dikorbankan. Itu tak seberapa dibanding ilmu yang bakal diperoleh. Atau, Jika memang, misalnya sedang tak ada ongkos. Bolehlah, kita berangkat sama-sama" tawarnya. Aku berharap semoga ia tak seperti warga Mesir kebanyakan.

      Sebenarnya dua atau tiga pound juga dalam sehari tidak begitu banyak,  jika memang ada. Masalahnya sekarang, untuk beli lauk saja susah. Sudah dua hari ini menu makannya cuman tomat campur garam. Sudah dua hari pula mandi tak pakai sabun. Tak terbayang jika kejadian seperti ini terjadi di musim panas. Bersyukur persediaan transportasi untuk ujian esok lusa masih ada. Jadi buku-buku tak sempat dibongkar, kebiasaanku semenjak di pesantren bila "semi paceklik" tiba.

      "Jadwalnya, boleh aku tahu, enggak? "

     "Subhanallah! Mengapa tidak, akhi!"

     Ia bangkit dariku mencari secarik kertas di sela-sela kotak infaq mesjid. Aku menghampirinya yang tengah  duduk kembali di samping mimbar. Sambil ia mencatat jadwal yang kuminta, wirid dzikir pagi yang sempat terputus tadi aku teruskan. Sesaat kumerasa, seperti yang selalu dirasakan Idris dan Wawan. Ada kebahagiaan tersendiri yang bakal dirasakan. Ada semacam energi tambahan  dalam memulai hidup baru untuk hari ini.

     " Kenal Syeikh Mustafa Al-Adawi , kan Firman?"

     "Mmm… kalau kenal wajah, sih tidak. Kenal nama saja. Lewat karya-karyanya. Beliau dari Manshura, bukan?"tebakku.

    "Ayyuwa, huwa da"senyumnya mengambang.

    "Di sini, beliau membawakan materi tafsir syarh shahih al-Bukhari."bebernya, saat jadwal pengajian itu ia serahkan padaku.

    Setelah kulihat nama-nama pematerinya, memang hanya Syeikh Mustafa Al-Adawi yang kukenal. Itupun baru sekedar nama. Aku mengenalnya lewat karya-karya beliau yang menyebar di maktabah-maktabah terdekat. Salah satu karya fenomenal dari beliau, adalah Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Aku mendapatkannya di maktabah Ibnu Rajab belakang mesjid Al-Azhar, saat itu tinggal satu.  Salah satu gaya penulisan beliau yang membuatku terpesona, adalah pembahasan sisi bahasanya yang mendalam. Sehingga bukan saja ilmu-ilmu yang tafsir yang kudapatkan, tapi juga perbendaharaan bahasa yang memadai. Hal ini pula yang merangsang minatku. Membakar semangatku untuk terus mempermantap bahasa yang ada sudah kupegang. Khususnya bahasa Arab. Sebagai rujukan, karya-karya Prof. Dr. Muhyiddin Abdul Hamid, kontributor majalah Manarul Islami, mulai kulirik.

     


    Posted at 11:40 pm by wawantaqiuddin
    Comment (1)  

    Monday, January 15, 2007
    AYAM BAKAR DARI AMMUH SHALAH


    Istri yang cantik dan shalehah; tetangga yang baik dan pemurah, adalah  nikmat tiada tara yang banyak dilalaikan manusia, kata 'Aidh Al-Qarni dalam hatta takuuna  as'ada an-Naas fii al-'aalam. Kalau boleh aku tambahkan, sebagai mahasiswa yang belum beristri (semoga dapat istri cantik), selain tetangga yang baik, tuan rumah yang baik pun termasuk nikmat yang terkadang kita lalaikan.
    Ammuh Shalah, termasuk nikmat yang bisa melalaikan itu. Ia adalah tuan rumah kami (bapak/ibu kost) di rumah yang baru kami tempati ini semenjak bulan april lalu. Orangnya baik dan pemurah selain dikenal dengan disiplin tingkat tingginya. Ia tak pernah telat datang mengambil sewa rumah. Dan, tiap kali datang ia pasti memohon pada kami, agar kami meminta sesuatu apa yang bisa ia bawa pada esok harinya. Jadi, kalau misalnya ia datang pada tanggal 24, maka tanggal 25nya atau esoknya ia datang lagi dengan membawa pesanan kami yang kemarin. Jika , misalnya, kami pesan ayam. Berarti yang dibawa memang benar-benar ayam. Bukan itik apalagi ular. Hehehe. Seperti hari ini. Ia membawakan kami satu ekor ayam bakar. Sesuai dengan pesanan al-qaaidh, Al-Affasi. Ayam bakar yang besar itu hanya dihadapi empat orang, membuat kami lupa kalau dalam waktu dekat ini kami akan berhadapan dengan ujian. Begitu lezat. Dan, kebetulan sekali nasi yang ada di pemanas tinggal sedikit, jadilah kita makan ala orang kaya sesaat; makan dengan lauk yang lebih banyak dari nasinya. Karena hampir seharian aku tidak makan, maka barangkali akulah yang paling banyak menyiduk daging-daging ayam itu, meski tuan rumahnya berpesan pada yang lain, agar aku diberi secuil saja. Sebab ia mangkel padaku, gara-gara kedatangannya bulan lalu, tidak begitu kuhormati. Hehehe.

    Maaf saja, Ammuh! Barangkali kau harus tahu, bahwa meski kau sering bawa apa yang kita inginkan, tapi tak berarti kau boleh berbuat apa yang engkau ingini pada kami (padaku khususnya).  Aku akan menghormatimu selama rasa hormatmu pada kami tidak mengalami perubahan. Sebab ayam bakar, gula pasir, beras, kurma kering dsb, terlalu kecil di banding  nilai sebuah harga diri. Tidakkah engkau lihat bagaimana Zidane menghitamkan namanya di penghujung karirnya? Bukankah karena harga diri yang membuat ia menanduk dada Materazzi? Kala itu, sederet piala dan penghargaan lainnya tiba-tiba tak ada artinya disebabkan harga diri dilecehkan. Aku tak ingin ayam bakar ini, sama halnya dengan sederet piala dan aneka penghargaan lainnya yang tiada berharga bagi seorang maestro bola yang kerap dipanggil Zizou. Tapi, kau memang baik, kok!

    Giza, 25/12/06.

        
     

    Posted at 04:18 pm by wawantaqiuddin
    Kasih Komentar  

    Wednesday, January 03, 2007
    JIBRIL KENA MARAH


    Benar, Jibril kena marah? Ah, enggak, kok! Bukan orangnya tapi suaranya. Kebetulan saja, salah seorang dari puluhan jamaah isya kali ini menjadikan penggalan do'anya sebagai ringtone hp. Saat  ruku' pada rakaat keempat, hp-nya berdering, ada yang menelpon. Rupanya ia lupa mematikan hpnya. Kupikir tidak lupa, bagaimana mau lupa, kalau di pintu masuk (depan-belakang) tertempel stiker berukuran besar dengan bahasa yang halus agar masing-masing jama'ah yang berhp menonaktifkan pesawat tersebut sepanjang shalat. Berkat kecorobohan kecil ini, maka  berdendanglah lembut suara Syeikh Muhammad Jibrl dalam penggalan do'a-do'a panjangnya. Ini pulalah menghentak kekhusyuan shalat para jama'ah (termasuk aku-cieee...)untuk sesaat. Masalahnya, suara itu sangat familiar di telinga. Siapa yang tak kenal dengan Muhammad Jibril? Yang hampir pada setiap malam dari 27-30 ramadhan, masjid Amru bin Ash menjadi lautan manusia,hujan air mata saat do'a-do'a panjang itu mulai mengalir dari bibir mulia itu.

    Akhirnya, begitu sang imam selesai mengucapkan salam pada shalat isya kali ini,orang tua di belakangku (salah satu dari mereka yang memakmurkan mesjid ini-alhuda) berbalik ke sumber bunyi hp tadi. Sialnya, orang itu tepat di belakangnya. Dengan mudah dan seenak perutnya ia mengomel. Dan, sepertinya ia memicu emosi jama'ah yang lain, mesjid pun riuh. Terlebih saat korban diomeli seperti itu oleh banyak orang, bukannya menerima. Malah membantah. "Ini kan, doa. Jadi kupikir sah-sah saja."begitu katanya.
    " Jangankan do'a, ustadzzz... bacaan al-quran saja, selain suara imam dilarang."suara Ammuh yang pertama tadi meninggi.
    "Ah, siapa bilang?"si-korban tetap ngotot pada pendiriannya. Berkat pendirian keliru inilah, jumlah jama'ah yang mengomelinya bertambah. Sementara ia, nyaris tak punya penolong selain kekerasan kepalanya sendirinya. Melihat dirinya cuman sendiri, ia berdiri langsung keluar.
    Nah, anehnya, di belakang dia suasana bukannya langsung cair. Malah mesjid bertambah riuh. Ya, bunyi ringtone hp sepanjang shalat  yang diperdebatkan. Bagaimanakah hukumnya? Awalnya, kupikir jama'ah yang ada pada malam itu pada sepakat "mengecam"segala suara yang bisa menganggu kekhusyuan shalat, rupanya tidak. Sewaktu aku hendak keluar dari mesjid, saat sandal biruku yang baru kuletakkan di lantai hendak kupakai, salah seorang dari jama'ah yang pernah memberikan tadzkirah sewaktu ramahdan baru saja berlalu, berpendapat sama dengan si korban. "Ya, kalau doa, kupikir memang tak mengapa, sih."ujarnya mengamini pendapat korban. Tapi, nampaknya ia tak serius pada pendapatnya, sebab ia segera menghilang. Hehehe. Bagaimana mungkin ia akan berlama-lama di situ, kalau  ammuh  yang pertama mengomel segera mengejarnya. Asal tahu saja, ammuh ini, adalah salah satu dari mereka yang disegani oleh jama'ah di sini. Kalau sang imam tetap lagi berudzur, ia yang kerap di sodori untuk jadi imam. Kapan saja. Padahal suaranya tidak bagus-bagus banget, kok, jika dibandingkan dengan suara khas milik Idris Al-Affasi. Hehehe. Canda!
    Giza, 05/01/07.



    Posted at 08:47 pm by wawantaqiuddin
    Kasih Komentar  

    Previous Page Next Page


    Up | Down | Top | Bottom

    © 1996-2004.No reproduction or republication without written permission By Wawan Andrena ST Bank